ABOUT CHILDREN > CHILD & GROWTH
Terapi Untuk Anak Dengan Autisme
05 Apr 2012

Pada artikel sebelum ini telah dijelaskan apa itu autisme, bagaimana gejalanya, apa penyebabnya, dan bagaimana cara mendeteksi dini. Pada artikel ini akan dibahas mengenai terapi-terapi apa saja yang dapat dipergunakan untuk membantu anak autis tumbuh optimal.




Banyak sekali oknum yang menawarkan berbagai suplemen maupun obat-obatan yang mereka akui dapat menyembuhkan autisme. Perlu anda ketahui, sampai saat ini ilmuwan dunia belum menemukan satupun obat-obatan yang dapat menyembuhkan autisme 100%. Jika dokter memberi obat, itu hanya untuk meringankan gejala autisme saja. Sehingga pada artikel ini akan dibahas terapi apa saja yang sudah dipakai secara luas di dunia. Terapi ini hanya bersifat membantu anak autis "berdamai" dengan autisme. Jika anda memiliki anak dengan autisme, konsultasikan dengan dokter atau ahli di bidangnya agar dapat ditentukan jenis terapi mana yang sesuai dan dibutuhkan anak anda. Tidak semua terapi cocok untuk masing-masing individu. Sehingga perlu pemilihan jenis terapi yang paling sesuai untuk anak anda


1. Applied Behavioral Analysis (ABA).


Merupakan jenis terapi yang paling banyak dipakai terutama di Indonesia. Memakai prinsip memberikan positive reinforcement misalnya hadiah atau pujian yang disukai anak jika ia merespon suatu instruksi secara benar. Jika ia tidak merespon secara benar, ia tidak diberikan hukuman, hanya saja ia tidak mendapatkan hadiah/pujian yang ia suka. Terapi ini dapat diukur kemajuannya.


Secara teori, prinsip dasar terapi ini adalah A-B-C yaitu Antecedent (hal yang mendahului terjadinya perilaku) berupa instruksi yang diberikan terapis kepada anak autis. Dengan sistem pengajaran yang terstruktur, anak dapat memahami Behavior (perilaku) apa yang diharapkan dilakukan jika ia mendengar suatu instruksi. Dan perilaku tersebut cenderung terjadi lagi jika anak memperoleh Consequence yang menyenangkan berupa hadiah, pujian,dll.


Terapi ini bertujuan meningkatkan pemahaman dan kepatuhan anak terhadap aturan. Terapi ini memperlihatkan hasil yang signifikan jika dilakukan secara intensif, teratur dan konsisten sejak dini.


2. Terapi Wicara.
 

Kesulitan memahami atau mempergunakan bahasa untuk berbicara sering dialami anak dengan autisme. Sehingga anak akan mengalami kesulitan untuk berkomunikasinatau berinteraksi dengan orang lain. Terapi wicara akan sangat membantu anak dengan autisme untuk berkomunikasi.


3. Terapi Okupasi dan Fisik.
 

Anak dengan autisme memiliki masalah dengan gerakan motorik halus dan kasarnya. Sehingga terapi okupasi dilakukan untuk melatih gerakan motorik halusnya seperti memegang sendo/pensil, memyuap makanan,dll. Sedangkan terapi fisik bertujuan melatih otot-otot agar dapat melakukan gerakan motorik kasar dengan baik seperti berjalan, mempertahankan keseimbangan,dll.


4. Terapi Sosial dan Bermain.
 

Anak dengan autisme memiliki kesulitan berkomunikasi dan bermain dengan teman sebayanya. Karena mereka menganggap temannya tidak bisa mengerti yang ia maksud atau inginkan. Oleh karena itu, terapi ini dilakukan agar anak autis dapat mengetahui bagaimana cara bermain dengan teman sebayanya dan orang lain.
 

5. Terapi Edukasi.
 

Salah satu terapi edukasi yang terkenal di North Carolina adalah TEACCH (Treatment and Education of Autistic and Related Communication Handicapped Children). Merupakan terapi yang menggunakan media visual seperti gambar,dll untuk membantu anak belajar mengatur kegiatan yang ada di lingkungannya secara mandiri. Terapi ini bertujuan meningkatkan kemampuan adaptasi anak autis. Tidak seperti terapi ABA, terapi ini tidak mengharapkan perubahan yang signifikan. Terapi ini tidak menuntut anak untuk patuh namun lebih fokus dalam meningkatkan kemampuan anak untuk mengerti tentang lingkungannya dan memberitahu apa yang ia butuhkan.
 

Ada bermacam jenis terapi edukasi lain seperti floor time,dll yang berbeda tiap sekolah anak berkebutuhan khusus.
 

6. Terapi Diet.
 

Seperti yang kita ketahui,pada beberapa anak autis ada yang sensitif terhadap makanan. Beberapa peneliti menganggap pada anak autisme terdapat masalah di sistem pencernaannya. Walaupun masih banyak pro dan kontra mengenai kaitan makanan mengandung gluten (protein yang terdapat pada gandum) dan casein (protein susu) dengan munculnya gejala autisme, namun pada penelitian terbaru ditemukan bahwa kedua jenis protein tersebut dapat memicu munculnya gejala-gejala hiperaktif dari autisme. Sehingga para ahli menyarankan orangtua memberikan anaknya makanan bebas gluten dan casein. Gluten terdapat pada produk gandum seperti tepung,roti, sereal, oat,dll. Sedangkan casein terdapat pada semua produk susu seperti susu cair, susu skim, keju,mentega,dll.

 

Ada berbagai terapi lain untuk membuat anak autisme hidup dan tumbuh dengan optimal. Konsultasikan dengan dokter atau ahli di bidang autis agar anda bisa mendapatkan terapi yang sesuai untuk anak anda. Tiap anak bisa berbeda jenis terapinya. Kesabaran dan dukungan orangtua sangat berperan dalam tumbun kembang anak dengan autisme. Ingat, anak autis bukanlah suatu hukuman dan bukan penyakit keterbelakangan mental karena banyak anak autis yang justru memiliki IQ diatas rata-rata. Sehingga janganlah kita mengucilkan atau mengejek mereka. Justru kita harus membantu mereka mencapai masa depan yang cerah.


OTHER ARTICLE
btn_fb
btn_twitter

lula-konsultasi

adv-konsultasi-jerry